
Wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) yang menikmati liburan ke Bali tampaknya semakin tertarik menikmati makan siang di Warung Bukit Hexon yang terletak di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, atau tepatnya di pesisir bagian utara Danau Buyan di jalur Denpasar-Singaraja melalui jalur Bedugul.
Warung Bukit Hexon yang berstandar restoran berkapasitas tempat duduk yang memadai, didukung sarana dan prasarana berupa meja dan kursi ukuran panjang mampu melayani konsumen dengan jumlah banyak dalam waktu yang bersamaan.
Selain tempat makan di dalam ruangan juga tersedia di luar ruangan didukung pemandangan danau, perbukitan dan perkebunan yang hijau didukung udara dingin terkadang berkabut, karena berada di dataran tinggi bisa mencapai 12° hingga 20°.
Meja panjang berukuran 16 meter, lebar 60 centimeter menjadi salah satu daya tarik pelancong selama ini sangat disenangi pengunjung Warung Bukit Hexon, karena mereka suka duduk sambil ngopi atau makan di meja memanjang untuk menyaksikan panorama alam sekitarnya yang memanjakan mata.
“Warung Bukit Hexon selalu siap menerima dan melayani anggota rombongan untuk menikmati makan siang dalam jumlah besar,” ujar Puru Serken, selaku manajer Warung Bukit Hexon.
Belum lama ini, Warung Bukit Hexon menerima kunjungan makan siang dari Group EMRO (Effective Microorganisms Research Organization) yang terdiri dari Negara Jerman, Polandia, Ceko, Belanda, Ukraina, Belgia, Kosovo dan Swis disela melakukan kunjungan ke Villa IPSA di Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.
Pada kesempatan tersebut, rombongan tamu EMRO Eropa menikmati makan siang menu khas Warung Bukit Hexon dengan berbagai pilihan dari menu tradisional seperti mujair nyat-nyat hingga menu khas ala eropa.
Putu Serken mengatakan, untuk rombongan yang mau menikmati makan siang di Warung Bukit Hexon bisa dengan model prasmanan (buffet) dengan penyajian makanan yang disusun di meja, memungkinkan tamu untuk memilih dan mengambil sendiri makanan yang diinginkan.
“Dengan konsep prasmanan dapat memberikan fleksibilitas untuk mencicipi berbagai jenis makanan dalam porsi yang sesuai dengan selera individu tamu,” ujar Serken sosok pria berbadan gempal dan humoris tersebut.
Menurut Putu Serken, saat ini menu mujair nyat-nyat masih menjadi primadona wisatawan dalam dan luar negeri serta masyarakat Bali sendiri. Ikan segar hasil panen nelayan dari danau sekitar diolah dengan bumbu khas Bali, sehingga memiliki cita rasa yang khas, nikmat dan segar.linktr.ee/pakolescom