
Oleh: Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr *)
Salah satu indera yang lupa dicatat manusia adalah pikiran, yang bisa berhubungan ke alam luar dirinya. Kelima indera yang dirasakan manusia adalah penciuman, penglihatan, perasa, peraba, dan pendengaran. Dengan indera tersebut manusia berinteraksi dengan alam luar, belajar dan mengembangkan dirinya, menyerap menyebarkan ilmu dan pengalamannya.
Banyak talenta manusia berkembang diluar kemampuan kelima indera, misalnya orang buta bisa membaca, orang tuli bisa membuat lagu dan musik, orang cacat tidak berkaki bisa menjadi juara renang atau juara gulat. Bagaimana semua fenomena ini bisa terjadi? Salah satunya adalah karena kekuatan pikiran, disamping pengaruh kekuatan Tuhan yang tidak terlihat.
Kekuatan pikiran (the power of mind) dalam kurun waktu 100 tahun yang lalu mulai diteliti dan dipelajari, akhirnya sejak 50 tahun yang lalu dia mulai diterima sebagai kebenaran, dan diteliti, serta diajarkan/dilatih dalam bidang psikologi dan pengembangan diri. ratusan buku-buku tentang kekuatan pikiran, seperti the magic of thinking big (David Schwartz), the power of positive thinking (Norman Vincent Peale), Think and grow rich ( Napoleon Hill), yang merupakan induk buku tentang pikiran, dan diulang lagi penulisannya dengan berbagai versi oleh penulis lainnya, yang pada intinya mengatakan, bahwa pikiran adalah sumber daya dahsyat yang jika digunakan secara positif akan mengubah hidup ke arah yang baik, sebaliknya jika digunakan secara negatif akan mengubah hidup menjadi buruk, sengsara.
Semua hal berawal dari pikiran. Budha mengatakan dalam Dhammapada pada Bab 1 ayat 1, “Segala keadaan batin didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dibentuk oleh pikiran. seperti roda pedati yang mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya.” Sekali lagi dikatakan, bahwa nasib anda atau kita semua didahului oleh pikiran, apakah hasilnya miskin, kaya, sakit, sehat, nipu atau jujur dan lain-lainnya berawal dari pikiran.
Saya memahami hal ini sejak saya saya satu SMP, dan mendiskusikannya dengan seorang pandita Budha yang sering berdiskusi dengan bapak saya di rumah, dan saya mendengarkannya, sambil ikut bertanya dengan polos maksud dan makna pikiran, serta bagaimana mengendalikannya. Pandita itu bernama Sri Pandita Budaraksita, yang sering dipanggil dengan nama Srine.
Setelah SMA, pada tahun 1980, saya belajar teknik meditasi Vipasana Bhavana dari Bhante Giri Rakhito di vihara Banjar, tentang teknik mencatat, mengawasi, mendamaikan pikiran dengan nafas perut, nafas pelan dan sadar dengan mengamati naik-turunnya perut saat bernafas. Terus terang, saat itu saya tidak mengerti manfaat dan maksud bernafas lambat dan mencatat pikiran, dan itu membutuhkan waktu 10 tahun, baru saya mengerti maksudnya, karena buku, literatur yang terbatas saat itu. Setelah saya membaca lebih banyak tentang buku-buku pikiran dan meditasi sejak 1990, baru saya memahami maksud dari kekuatan pikiran yang bisa mengubah hidup dan nasib.
Semenjak SMA, teman-teman saya mengatakan saya berbeda, kecuali ibu dan bapak dan adik-adik saya, yang baru saya sadari bahwa saya memang berbeda sejak 40 tahun yang lalu. Berbeda maksudnya dalam hal pilihan, hobi, pergaulan, olah raga, buku bacaan, dsb. Artinya, saya berbeda karena pikiran saya berbeda, buku-buku yang saya baca berbeda, teman pergaulan saya berbeda, termasuk pilihan saya bekerja berbeda, yang saat itu dianggap kurang wajar, tidak sesuai jaman anak muda.
Bapak saya mengelola rumah kos-kosan, yang dihuni oleh anak-anak mahasiswa dan pegawai pemerintah yang masih bujang, dan merekalah teman-teman saya, teman bermain dan diskusi, yang sekaligus menjadi guru-guru informal saya. Dari sinilah saya merasakan perbedaan pikiran saya yang berbeda (lebih maju), dibandingkan dengan pikiran teman-teman saya yang hanya bergaul dengan teman sebaya. Mungkin sampai sekarang teman-teman saya, dan saya juga merasakan masih banyak ada perbedaan pada diri saya, tapi karena saya dan mereka sudah biasa dan terbiasa, mereka menjadi maklum.
Sekali lagi, semuanya itu berawal dari pikiran. Pikiranlah yang menentukan nasib dan akhir dari suatu perjalanan, termasuk perjalanan hidup. Sebuah buku terbaru tentang pikiran berjudul “Mind Power Skills,” karya James Borg, ada di rak toko buku dan memaksa dompet saya terbuka untuk membayarnya. Walau buku itu isinya sama, tentang kekuatan pikiran untuk hidup dan kehidupan manusia, tapi cara menjelaskannya berbeda, lebih mudah dimengerti.
Dari buku itulah saya mendapat ide untuk menulis kembali catatan dan pengetahuan saya tentang pikiran. Seperti kata pepatah, “rambut sama hitam pikiran berbeda-beda, dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa yang tahu.” Pepetah itu menegaskan betapa pikiran sangat kuat pengaruhnya terhadap penampakan dan hasil akhir, serta pikiran tetap menjadi rahasia yang yang harus terus diamati dan dikendalikan, agar bisa memberikan hasil yang baik bagi kehidupan.
Ilmu -ilmu tentang pikiran perlu diajarkan kepada generasi muda, untuk menjadi generasi yang lebih kreatif , optimis dan tahan banting menghadapi tantangan masa depan dan menuju masa depan yang lebih baik. Generasi yang lemah, yang dikenal dengan generasi strawberi adalah generasi yang memiliki kekuatan pikiran yang kendor, mudah patas semangat, menggampangkan, mudah loyo seperti kerupuk melempem, mudah masuk angin, atau seperti tai ayam yang hangatnya sebentar saja, langsung dingin. linktr.ee/pakolescom
*) Direktur Utama PT Karya Pak Oles Grup