Dirut PT Karya Pak Oles Group Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr mengatakan buku karya David J.Schwartz yang berjudul “The Magic of Thinking Big” menjadi best seller dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Buku tersebut menjadi referensi dan pemicu orang-orang sukses. “Buku itu pertama kali saya baca pada Mei 1990, yang saya beli seharga Rp 2.500,- di pameran toko buku bekas di Jakarta. Beberapa teman saya tertawa sinis dengan isi buku itu, walau dia belum membacanya, dengan berkata: “itu sih hanya hayalan pengarangnya saja, dia menjual mimpi,” ujar Dr. Wididana.
Alumnus Program Pasca Sarjana (S-2) Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang (1987-1990) menjelaskan, di tahun 1990-an, buku-buku motivasi, pengembangan diri dan kepemimpinan sangat langka. “Buku The magic of Thinking Big saya baca dan praktikkan dalam aktivitas bekerja dan hidup setiap hari,” ujar sosok pria enerjik yang akrab disapa Pak Oles.
Ia mengakui, buku itu mengubah pola pikirnya menjadi pribadi yang berbeda. Pada tahun 2000-an buku itu hadir di toko-toko buku dan laris. “Saya membeli 10 buku untuk dibagikan ke teman-teman. Apakah mereka membaca atau hanya sekedar melihat judulnya, saya tidak tahu,” ujarnya.
Pak Oles menemukan buku bekas The Magic of Thinking Big dijual Rp. 50.000.- di pasar online pada akhir Maret 2025. Jarinya otomatis meng-klik untuk membelinya. Buku itu ia baca ulang, dan mencatat isinya yang penting dalam jurnal ringkasan buku. “Saya menjadi semakin memahami bagaimana pikiran bekerja, sehingga dapat mempengaruhi hasil, seperti yang berkali-kali ditekankan, bahwa kesuksesan seseorang diukur dari mindset, besar-kecilnya pikiran,” tegasnya.
Alumnus program S-3 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar mengaku teringat dengan anekdot di masyarakat Bali, “jangan berpikir besar”, “de gedenan keneh.” Untuk orang-orang gagal, mereka diberi label baru, “jeleme gedenan keneh,” artinya, manusia berpikir besar.
“Saya kira itu salah satu sebab, kenapa orang Bali takut berpikir besar. Mereka takut diberi label “gedenan keneh”. Untuk hal ini, perlu kiranya mereka yang takut, atau menakut-nakuti berpikir besar untuk membaca buku The magic of thinking big,” ujar Wididana yang juga seorang guru yoga internasional.
Dalam perjalanan hidup malang melintang merintis usaha, dalam sosial-politik, Wididana bertemu, berteman, atau sekedar berteman dengan sangat banyak orang. Ia bisa membedakan arti daripada berpikir besar dan omong besar.
Apa bedanya? Orang yang berpikir besar memiliki tujuan, keyakinan, rencana, dan siap bekerja dari hal-hal kecil, fokus, tekun, sabar, disiplin, kerja keras. Sedangkan orang yang omong besar tidak melakukan hal itu, mereka memiliki cita-cita besar, rencana besar, tapi dia rajin menunggu kesempatan, sambil membicarakan rencana-rencana besarnya tanpa tindakan.
Orang-orang seperti inilah disebut dengan “gedenan keneh”, yang ia terjemahkan sebagai berangan-angan besar, bukan berpikir besar. “Di sinilah saya bisa membedakan orang yang bercita-cita besar adalah dia yang berpikir besar. Sedangkan orang yang omong besar adalah dia yang berangan-angan besar, dalam istilah kekinian disebut “omon-omon,” atau “omdo,” atau omong-omong dogen, omong-omong saja, NATO, No Action Talk Only,” tegasnya.linktr.ee/pakolescom