
Direktur utama PT Karya Pak Oles Group, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr mengatakan, salah satu tugas penting sebagai seorang pemimpin adalah mengajar, melatih anggota atau tim agar menjadi lebih pintar, lebih ahli.
“Tugas mengajar itu dilakukan secara formal, misalnya melalui pendidikan sekolah, kursus, seminar, workshop dan juga bisa dilakukan secara informal, melalui diskusi, praktik langsung, instruksi, latihan dan bimbingan lapangan”, ujar pria yang akrab disapa Pak Oles.
Menurut Alumnus Program Pasca Sarjana (S-2) Faculty Agriculture University of The Ryukyus Okinawa, Jepang (1987-1990), ada suatu kepuasan tersendiri jika pemimpin berhasil melatih anggotanya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu, bahkan menjadi ahli dan bisa bekerja mandiri.
Tentu saja kebalikannya, ada suatu tantangan tersendiri yang harus dilewati bagi pemimpin saat melatih anggotanya yang malas, bodoh, atau tidak mau belajar. Target, disiplin dan sabar adalah kunci melatihnya.
Dr. Wididana menambahkan, pemberian target yang jelas, termasuk pemenuhan waktu, biaya, pencapaian tentang apa yang harus diselesaikan harus jelas dan ketat. Disiplin adalah kunci untuk mencapai target. Disiplin termasuk semangat dan mindset (pola pikir). Tanpa semangat kerja keras dan belajar tekun, serta mindset yang benar mustahil disiplin bisa dilakukan.
Alumnus program S-3 Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, Denpasar menilai, seringkali pemimpin terkecoh dengan semangat dan mindset anggota yang instan dan pura-pura. Semangat instan maksudnya semangat jangka pendek, yang awalnya menyala kemudian meredup dan mati, atau seperti tai ayam yang hangatnya saat keluar dari dubur ayam dan segera dingin.
“Semangat pura-pura berarti penampilan semangat yang ditonjolkan, sebenarnya dalam hatinya sudah kendor. Untuk mengatasi hal yang demikian, hanya waktulah yang menjawab, mereka pasti tersingkir dari kekuatan tim yang bersemangat,” ujar Dr. Wididana.
Sabar adalah kekuatan pemimpin. Tanpa kesabaran, pemimpin bisa setres melatih. Tanpa kesabaran, pelatihan juga tidak mungkin dilakukan, karena pelatihan kepada tim berlangsung terus, belajar terus dan memperbaiki diri terus, untuk menjadi lebih baik. Tanpa kesabaran, peserta latihan tidak tekun dan tidak gigih.
“Artinya, berpikir dan bertindak instan dalam urusan memimpin dan melatih calon pemimpin hanya ada dalam teori,” tegas Pak Oles.
Ia menambahkan, tidak ada suatu keberhasilan tim tanpa kesabaran. Dengan kesabaran pemimpin dan timnya akan mewujudkan disiplin, dan target. Bagi timnya yang kurang sabar, pastilah mereka kurang disiplin dan kurang mencapai target. Jika pemimpin tidak sabar, maka tim akan bubar, karena tidak kuat bertahan dalam menoleransi ledakan emosi pemimpinnya.linktr.ee/pakolescom