Budidaya Lele dilakukan Wawan Supardi (56) setelah pensiun, berbekal buku dan paduan informasi melalui internet, pensiunan perusahaan Korea mencoba budidaya kolam bioflok, yaitu teknik budidaya dengan kolam terpal bentuk bulat.
Budidaya kolam bioflok awalnya diperkenalkan Susi Pudjiastuti, ketika menjabat Menteri Perikanan beberapa tahun lalu untuk mengatasi keterbatasan lahan. Budidaya lele dengan bioflok tak disangka menghasilkan omzet yang luar biasa.
“Saya pakai sistem bioflok karena keterbatasan lahan, selain itu ikan mudah diawasi, kolam selalu bersih dan tidak bau amis,” tutur Wawan yang punya pondokan di daerah Jati Sampurna Bekasi.
Pria asal Solo ini sebelumnya juga pernah budidaya ikan lele dengan kolam permanen, namun karena lokasi jauh dan susah diawasi, kolam ikan terlantar dan akhirnya tidak berjalan.
Budidaya bioflok dilakukan wawan karena memiliki banyak keuntungan, selain tidak memakan tempat, biaya yang dikeluarkan juga lebih irit, kolam dapat dibuat dari bahan terpal dan gampang bongkar pasang. Bioflok, kolam bulat dapat dibuat dari terpal yang diletakan pada rangka besi yang didesgn sedemikian rupa.
Satu kolam bioflok diameter 3 meter bisa menampung 3 hingga 5 ribu ekor lele. Meski menampung ikan dengan jumlah tidak sedikit, air pada kolam ini selalu bersih, hal tesebut, karena adanya pipa pembuangan pada dasar kolam.
ketika pipa pembuang dibuka, kolam terus ditambah air sehingga voleme air tetap sama, kotoran terbuang, air kolam jadi bersih jadi tidak perlu menguras kolam.
Wawan sendiri membudidaya ikan Lele jenis Sangkuriang, bibit ikan ia datangkan dari Boyolali, lele tiap hari diberi pakan fermentasi, berupa pelet hasil fermentasi EM4. pemberian pakan ini bertujuan supaya pelet mengembang dan mengurangi jumlah konsumsi pakan berlebihan sekaligus membuat lele tidak berbau amis.
“Pemberian EM4 juga dapat meningkatkan gizi pakan dan nilai cerna pakan sehingga jika diberikan kepada ikan akan mempercepat pertumbuhan, cepat besar dan panen dalam waktu singkat,” jelas Wawan. Selain pada pakan, EM4 juga diberikan pada tiap kolam, pemberian EM4 untuk menguraikan zat berbahaya akibat kelebihan pakan dan kotoran lele seperti amoniak, CO2, H2S dan gas berbahaya lain.
EM4 miliki peran penting dalam budidaya kolam Bioflok, EM4 dapat meningkatkan daya tahan, dan kesehatan ikan, sementara pada pada kolam EM4 memfermentasikan sisa pakan dan kotoran pada dasar kolam serta menguraikan gas amoniak, methan dan hidrogen sulfida yang dapat mengganggu kehidupan ikan.
“Tak hanya itu, air pembuangan dari pipa kotoran lele dapat juga dimanfaatkan menjadi pupuk organik.” Jelas Wawan
Dalam satu hari, wawan menghabiskan 8 hingga 9 kg pelet untuk satu kolam, Melalui aplikasi EM4, pakan lele bisa berkurang hingga 20 persen, dan ikan sudah tercukupi kebutuhan gizi, ikan kenyang dan sehat. Pemberia pakan ia lakukan pada pagi hari pukul 07.00 dan malam hari sekitar pukul 19.00.
Lele Sangkuriang sebagai komoditas yang dibudiayakan karena ikan jenis ini lebih mudah didalam perawatan dan cepat panen. Dengan sistem bioflok, lele sudah dapat dipanen pada usia 3 hingga 4 bulan.
“Waktunya singkat tiga sampai empat bulan, sebaiknya lele lekas dipanen karena jika lebih dari itu, ukuran lele bisa kebesaran dan tidak disukai pasar,”ujarnya.
Saat ini, Wawan memiliki 24 kolam bioflok, setiap bualan ia dapat memperoleh keuntungan bersih hingga Rp. 18 juta dari penjualan Rp. 1, 2 ton lele.
Keberhasilan ini tak lepas dari perawatan dan keuletannya, serta EM4.” Kalaw tidak pakai EM4 saya tidak yakin usaha ini berjalan hingga saat ini, EM4 sangat membatu sekali, ” ungkapnya.https://linktr.ee/em4