Pertanian Zaman Dulu Lebih Unggul-Menjanjikan

0
174
Seorang petani sedang membersihkan gulma di pematang sawah supaya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi.

Staf Ahli PT Songgolangit Persada, Ir. I Gusti Ketut Riksa menilai, pertanian tradisional Bali zaman dulu lebih unggul dan menjanjikan berkat produksi yang cukup menggembirakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, berkat memiliki tingkat kesuburan lahan yang lebih lestari.
“Petani zaman dulu, terutama yang menggarap lahan basah selalu memelihara ternak sapi untuk membantu mengolah lahan dan memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk organik dan tabungan jika sewaktu-waktu butuh uang,” kata Gusti Ketut Riksa yang juga Instruktur Effective Microorganisms 4 (EM4) pada Instittut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali di Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Ia mengatakan, petani zaman dulu lebih kreatif, selain memelihara ternak sapi juga memelihara unggas, ayam dan ikan yang semua dilakukan di sawah sehingga tidak memerlukan biaya angkut kotoran hewan untuk pupuk organik.
Ayam petelur dan ikan untuk memenuhi kebutuhan lauk sehari-hari, karena telur dan ikan mengandung protein yang tinggi sehingga mampu menambah tenaga bagi petani yang seharian dituntut bekerja keras.

Sementara kencing sapi beserta kotoran padat langsung dikuras masuk ke sawah sehingga lahan sawah terus memperoleh asupan pupuk kandang sehingga menjadi bertambah subur. Namun modernisasi pertanian sekarang telah mengganti ternak sapi dengan tenaga traktor, sehingga petani sekarang kebanyakan tidak lagi memelihara sapi atau kerbau.

Revoluasi besar-besaran sektor peternakan menyebabkan petani gurem kalah bersaing dengan pemodal besar di sektor peternakan, yang biasanya kandang sapi berpindah dari areal persawahan ke kandang koloni. Sawah kehilangan pupuk dan di kandang koloni muncul polusi. Para petani tidak mampu lagi membeli kotoran sapi terlebih lahan sawah jauh dari jalan besar dengan transportasi yang menyulitkan dan biaya mahal.

Demikian pula pemeliharaan ikan di sawah kini tinggal selogan untuk disuluh, namun secara faktual sulit dilakukan. Penggunaan pestisida selain membahayakan ikan peliharaan akibat air sudah tercemar, membinasakan cacing dan biota lain dalam tanah yang menjadi bahan makanan ikan.

Pertanian terpadu tempo dulu selalu mengatur giliran tanaman dengan setengah tahun basah dan setengah tahun kering. Penanaman pupuk hijau selalu mereka lakukan setelah padi gadu karena masih tersedia waktu untuk menunggu musim tanam, tutur Gusti Ketut Riksa.https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini