Oleh: Ketut Sutika

Indonesia memiliki wilayah kepulauan dari Sabang sampai Merauke, dengan total luas 1,9 juta kilometer persegi dan mempunyai 17.000 pulau di dalamnya.

Nusantara sebagai salah satu negara terluas di dunia, hingga tahun 1990 belum ada yang memelopori, atau tertarik mengembangkan pertanian organik, sehingga pertanian ramah lingkungan itu menjadi barang aneh dan langka.

Banyak kalangan nilai sangat beruntung, karena secara kebetulan Gede Ngurah Wididana, sosok  pria enerjik kelahiran Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali berhasil melanjutkan pendidikan Program Pasca sarjana (S-2) ke University of The Ryukyus, Okinawa,Jepang.

Pria kelahiran 9 Agustus 1961 itu adalah putra sulung dari lima bersaudara pasangan Ketut Sudana (93 tahun) dan Luh Sriwati (91 tahun). Ia  setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Udayana langsung melanjutkan studi ke luar negeri yakni belajar ilmu pertanian organik selama tiga tahun (1987-1990), di bawah bimbingan Prof. Dr. Teruo Higa, guru besar bidang hortikultura perguruan tinggi bergengsi di Negeri Sakura.

Ia meraih prestasi gemilang berkat keberhasilannya menyelesaikan Program Master ilmu Pertanian, dan membawa Teknologi Effective Microorganisms (EM) sebagai modal dan “senjata ampuh” mengembangkan pertanian organik di Indonesia.

Kala itu seperti melawan arus, karena di Indonesia lebih mengintensifkan pertanian anorganik. Sementera dirinya mendapat instruksi dari Prof. Teruo Higa, penemu teknologi EM, bahwa EM adalah teknologi mudah, murah, hemat energi, ramah lingkungan dan berkelanjutan cocok diterapkan di semua negara di seluruh dunia.

Pertanian anorganik yang diterapkan secara intensif mulai menghadapi berbagai kendala dan hambatan yakni timbulnya hama penyakit tanaman, kerusakan lingkungan dan ketidak kestabilan produksi.

Pertanian anorganik juga membutuhkan biaya produksi yang semakin meningkat, biaya sektor pertanian menjadi semakin mahal sehingga petani dalam menekuni usaha pertanian itu cenderung mengalami kerugian.

Buktikan Keunggulannya

Gede Ngurah Wididana ketika menyosialisasikan EM4 melalui  Yayasan Indonesian Kyusei Nature Farming Societies ( IKNFS)  selama sepuluh tahun, 1990-2000. Tidak seperti membalikkan telapak tangan, karena saat  itu belum banyak ahli pertanian yang meneliti tentang pertanian organik dan teknologi EM,  sehingga harus dapat dibuktikan dulu keunggulannya.

Untuk tujuan tersebut,Direktur Utama PT Songgolangit Prsada, Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr mendirikan Yayasan Pertanian organik kyusei untuk membangun kerjasama pelatihan pertanian organik dengan Kementerian Pertanian, Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian, untuk melatih petani dengan memberikan penyuluhan tentang pertanian organik.

Kerja sama pelatihan tersebut telah berhasil melatih petani lebih dari 1.000 orang petani, dan juga memberikan pelatihan untuk menjadi pelatih (Training of Trainer), dan berhasil melatih lebih dari 100 pelatih pertanian organik di pusat pertanian organik Kyusei di Thailand.

Seiring dengan meningkatnya minat petani untuk berlatih pertanian organik juga telah mendirikan pusat pelatihan pertanian organik di bawah Yayasan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA)  di Desa Bengkel, Buleleng, Bali, pada tahun 1997, dan telah berhasil melatih lebih dari 10 ribu petani, pemerhati dan praktisi pertanian organik dalam kurun waktu 20 tahun.

Dengan teknologi EM memberikan pilihan kepada petani untuk mengelola atau mendaur ulang bahan-bahan organik menjadi pupuk organik guna mendukung pengembangan pertanian organik.

Pengalaman menggunakan teknologi EM di Indonesia 33 tahun menunjukkan, bahan-bahan organik bisa dengan cepat menjadi pupuk organik melalui proses fermentasi EM4, sedangkan untuk tingkat dunia dikenal dengan EM1.

Perjuangan Pak Oles untuk memajukan pertanian organik mulai terlihat sejak 2010. Usaha tersebut bisa berhasil berkat keseriusan dan ketekunan suami dari  Komang Dyah Setuti, S.Sn. M.I.Kom  untuk terus fokus memajukan pertanian organik.

PT. Songgolangit Persada  yang didirikan oleh Direktur Utamanya Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr  adalah  badan usaha yang ditunjuk langsung dari EM Research Organization (EMRO) Jepang untuk memproduksi produk Teknologi EM, yang dikenal dengan EM4, sejak 1995.

Secara perlahan namun pasti, dari perjuangan pengenalan Teknologi EM dari petani tingkat bawah, sekarang sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas, oleh petani, peternak, perikanan dan pengolahan limbah di Indonesia.

Pulau Bali  sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia merupakan etalase pertanian organik, bisa digunakan sebagai contoh keberhasilan penerapan pertanian organik di Indonesia, karena didukung oleh masyarakat yang memegang teguh budaya  “Trihita karana” yakni  keseimbangan alam-manusia dan Tuhan, untuk mewujudkan kebahagiaan manusia dengan menjaga lingkungan/ alam.

Salah satu langkah nyata untuk menjaga alam adalah dengan Teknologi EM, membuat pupuk organik, mengurangi racun kimia pertanian, mengolah sampah dengan Teknologi EM.  Pertanian organik bisa digunakan sebagai strategi untuk mewujudkan pariwisata  yang dikenal sebagai agrowisata.

Dr. Wididana, pakar dan pelopor pertanian organik di Indonesia  menilai,  produk-produk pertanian organik, khususnya sayur, beras dan biji-bijian, serta protein hewani sangatlah diminat konsumen, walau harganya lebih mahal daripada produk pertanian biasa. Harga produk pertanian organik yang lebih mahal tersebut disebabkan karena kualitas produk yang lebih bagus dan juga ketersediaan produk yang lebih langka.

Oleh katena itu ada peluang yang sangat besar  mengembangkan pertanian organik untuk menjadi bisnis unggulan. Bali yang sudah lebih dulu maju dengan penerapan pertanian organik, yang bisa memadukan pertanian organik dengan pariwisata, industri makanan, kesehatan, kecantikan dan kebugaran, akan menjadi kiblat penerapan pertanian organik di Indonesia.

Teknologi EM  mulai dilihat sebagai peluang industri pertanian baru, yang ramah lingkungan dan menguntungkan, sehingga  lebih  diintensifklan penerapannya di berbagai daerah di Indonesia dalam bidang pertanian, perikanan, peternakan dan mengatasi limbah.

Kembalikan Kesuburan lahan

Sementara Staf Ahli PT Songgolangit Persada Ir. I Gusti Ketut Riksa merangkap instruktur EM pada Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) Bali menekankan, tanah pertanian yang kurus menyebabkan  produksi  rendah dan menghilangkan gairah petani yang tidak tertarik lagi menekuni usaha pertanian yang telah dilakoni secara turun temurun.

Untuk mengembalikan kesuburan lahan pertanian sekaligus mempertahankan keberadaan organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian  dengan merubah pertanian kimia menjadi pertanian organik ramah lingkungan berbasis teknologi EM.

Dengan teknologi yang mudah dan murah itu petani dapat membuat  pupuk bokashi dalam jumlah besar dengan biaya murah dan proses yang cepat memanfaatkan sentuhan teknologi EM.

Upaya tersebut dapat mempercepat revitalisasi kesuburan lahan sawah. Pengalaman membuktikan pemupukan dengan bokashi 10 ton perhektar dengan biaya relatif murah, pasca tiga kali tanam padi, pematang sawah sudah harus dinaikkan karena di lahan olah tanahnya mengembang dan gembur.

Kandungan bahan organik dan rongga udara tanah meningkat sekitar 50 persen dari volume tanah total. Volume sebesar 50 persen itulah sebagai ruang udara dan ruang air.

Akar tanaman beserta biota tanah bisa bernafas dan hidup lebih baik, tanah lebih banyak memegang air. Semakin banyak tersedia bahan organik untuk  didekomposisi biota tanah semakin banyak pula kandungan nutrisi tanah dan tanah menjadi lebih kuat dan lebih banyak dapat memegang air.

Petani agar mampu membuat pupuk organik dengan volume besar di lahan milik garapannya dengan menggunakan limbah-limbah organik, limbah pertanian yang difermentasi dengan EM dan dalam jangka waktu tiga minggu sudah bisa dipanen dan diaflikasikan ke tanaman.

Pemupukan dengan Bokashi dapat meningkatkan kandungan bahan organik, meningkatkan jumlah dan jenis mikroba dalam tanah. Semua persyaratan untuk hidup sehat terpenuhi dengan menggunakan pupuk bokashi sehingga alam semesta terus mengalami revitalisasi.

“Tuhan Yang maha Pencipta senantiasa memberikan sekecil apapun upaya manusia untuk melestarikan alam,” ujar Gusti Ketut Riksa. https://linktr.ee/em4

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini